Mengenal Standar Pertolongan Pertama dalam Sepakbola

Kita mungkin masih mengingat satu kejadian yang menyedihkan sekaligus menjadi duka dunia sepakbola Tanah Air pada tahun 2014 lalu, dimana seorang pesepakbola profesional bernama Akli Fairuz harus menghembuskan nafas terakhirnya setelah terjadi benturan dengan Agus Rochman yang merupakan seorang kiper klub kesebelasan PSAP Sigli dalam laga di kancah Divisi Utama Liga Indonesia.

Tim medis

Standar keselamatan para pemain sepakbola

Pemain Persiraja Banda Aceh itu sempat dibawa ke rumah sakit demi mendapatkan perawatan tim medis. Namun, setelah menjalani perawatan selama enam hari, Ia dinyatakan meninggal dunia oleh pihak dokter.

Akli yang waktu itu masih berusia 27 tahun tersebut merupakan salah satu peristiwa pemain sepakbola yang mengakhiri hidupnya diatas lapangan hijau dalam sedekade terakhir. Nama-nama lain yang terlebih dahulu menghembuskan nafas terakhirnya di dunia sepakbola yaitu diantaranya Sekou Camara (PBR), Jumadi Abdi (PKT Bontang) dan Eri Irianto (Persebaya Surabaya).

Sehingga, dalam olahraga yang saat ini begitu populer seanatero dunia harus memiliki standar pertolongan pertama. Demi meminimalisir kejadian yang mengenaskan di atas lapangan.

Ketentuan Ideal Pertolongan

Sepakbola memang merupakan salah satu jenis olahraga yang mengandalkan kekuatan fisik, bahkan kinerja kondisi tubuh secara tak langsung dipaksa melebihi dari kemampuan tubuh itu sendiri. Dalam permainan sepakbola yang terdiri dari dua tim yang masing-masing kesebelasan mengincar kemenangan, tak heran bahwa benturan baik ringan hingga berat antar pemain sering terjadi.

Tim Medis

Pertolongan pertama pada pemain yang mengalami kecelakaan diatas lapangan

Terlebih lagi dengan beberapa alat pengaman yang hanya boleh dikenakan oleh para pemain tidak dapat menjamin seratus persen keselamatan pemain. Sejumlah alat-alat itu hanya memberikan sedikit perlindungan di bagian tubuh pemain yang dinilai paling rawan terkena cedera. Sebut saja salah satunya Shin Guard yang melindungi tulang kering pemain sepakbola.

Sehingga, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan terjadi diatas lapangan, FIFA selaku induk tertinggi sepakbola di dunia membuat sebuah peraturan dalam standar medis yang harus disediakan dalam setiap pertandingan.

Standar medis di dunia sepakbola yang pertama adalah tenaga kesehatan, baik yang disediakan oleh penyelenggara pertandingan maupun dari masing-masing tim yang akan bermain. Pada umumnya, bahwa setiap tim sepakbola diwajibkan untuk memiliki tim medis yang terdiri dari seorang fisioterapis dan dokter dengan standar yang telah ditentukan oleh FIFA.

Penting untuk diketahui, bahwa tim medis dari klub maupun dari penyelenggara pertandingan yang harus menangani seorang pemain diatas lapangan apabila terjadi kecelakaan. Semestinya juga tidak diperbolehkan ada tim medis dari pihak ketiga. Lantaran, ditakutkan justru akan membahayakan.

Kedua, FIFA telah mewajibkan untuk menyediakan peralatan tim medis di setiap pertandingan. Asosiasi sepakbola tertinggi tersebut menginstruksikan bahwa tim dokter harus membawa sejumlah peralatan di dalam satu tas yang disebut FMEB (FIFA Medical Emergency Bag). Adapun isi dari tas itu diantaranya blood pressure monitor, alat infus, ventilation bag dan alat kesehatan lainnya.

Ketiga, didalam stadion sepakbola, offisial pertandingan harus menyediakan ruangan tersendiri untuk menangani pemain yang harus mendapatkan perawatan dan juga ambulans, apabila terjadi masalah yang lebih serius untuk dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Ketentuan yang Kerapkali Terbaikan

Pencegahan lainnya yang diatur oleh FIFA untuk menghindari hal-hal yang membahayakan para pemain sepakbola juga telah diatur dalam Law Of The Game. Dalam buku tersebut dibuat untuk mengatur jalannya permainan sepakbola dan beberapa ketentuan-ketentuan penting lainnya untuk keselamatan pemain.

Wasit

Wasit terkadang tidak memberikan ketegasan bagi pemain yang melakukan pelanggaran

Salah satunya ketika pada beberapa tahun lalu, banyak para pemain sepakbola yang harus mengalami cedera parah lantaran terkena sliding tackle dari lawan. Sehingga, FIFA memperketat ketentuan mengenai sliding tackle. Wasit yang bertugas untuk mengatur permainan diharuskan memberikan ketegasan bagi para pemain yang melakukan pelanggaran keras.

Namun sayangnya ketegasan dari penyelenggara kompetisi sepakbola di Indonesia masih belum nampak. Bahkan, wasit terlihat tidak tegas dalam memberikan peringatan kepada pemain yang dengan agresif melakukan pelanggaran. Sehingga, hal-hal ini yang masih kerapkali terbaikan.

Tes Medis Pemain Sepakbola

Kepindahan pemain dari satu klub ke tim lainnya dalam dunia sepakbola merupakan hal yang yang wajar. Karena memang di dunia sepakbola, kita mengenal adanya bursa transfer. Di Eropa, bursa transfer terjadi dua kali dalam semusim, yakni ketika musim panas dan musim dingin datang.

tes medis pemain

Pemain anyar harus melewati tes medis sebelum diresmikan oleh pihak klub

Dalam proses bursa transfer, pemain harus melewati beberapa tahapan sebelum ditanyakan resmi bergabung ke klub yang dituju. Salah satunya yang sangat penting adalah proses tes medis. Hal tersebut dilakukan agar pemain tersebut dinyatakan sehat dan layak untuk bermain sepakbola. Adapun sejumlah tahapan yang harus dilakukan saat pemain melakukan tes medis, yakni:

  • Kesehatan Tubuh & Jantung

Tahapan pertama pemain dalam melakukan tes medis adalah mengecek kesehatan jantung. Pemeriksaan kesehatan organ vital tersebut menggunakan monitor gema, ECG dan juga melihat riwayat kesehatan melalui kuesioner. Tak hanya jantung saja, tetapi juga pemeriksaan darah. Selanjutnya jika diperlukan, urine juga diperiksa untuk mengetahui apakah ada masalah kesehatan yang bersangkutan dengan penyakit diabetes.

  • Stabilitas Otot dan Tulang

Apabila tahapan pertama selesai, pemain akan dilanjutkan ke tahapan selanjutnya yakni memeriksa bagian-bagian khusus otot dan tulang yang kerapkali mengalami cedera seperti di area bawah pinggang maupun pinggul. Dimana di area tersebut merupakan tempat awal dari cedera hamstring ataupun persoalan mengenai adduktor. Nantinya pemain akan diminta untuk melakukan sejumlah gerakan seperti melompat dan squat untuk melihat tingkat dan fungsi kepadatan otot.

  • Persoalan Isokinetik

Tahap ini, fisioterapis akan meminta sang pemain untuk melakukan sejumlah gerakan tertentu yang berguna untuk melihat kelemahan mengenai beberapa kemungkinan cedera. Hal tersebut juga dilakukan ketika pemain selesai mendapatkan perawatan cedera.

  • Pemindaian Yang Lebih Mendalam

Apabila ditemukan beberapa riwayat kesehatan yang terasa mengganjal ketika pemeriksaan di tahap-tahap sebelumnya. Maka sang pemain akan dilarikan ke rumah sakit guna menjalani USG atau pemindaian resonasi magnetik. Hal tersebut bertujuan untuk melihat seberapa parah riwayat kesehatan sang pemain.

  • Lemak Tubuh

Ternyata, nilai lemak dalam tubuh sang pemain juga diperhitungkan menggunakan teknologi Bioelectrical Impedance. Adapun nilai normal lemak tubuh seorang pemain sepakbola profesional yakni sebesar 10 persen. Sejumlah tim juga mempergunakan tahapan ini.

  • Ergometric Sprint Test

Terakhir, sang pemain akan diminta untuk berlari dengan kecepatan sekencang-kencang dalam jarak tertentu. Kecepatan lari pemain tersebut nantinya akan dihitung. Contohnya pemain yang bermain di Championship Division, dimana mereka harus berlari dengan jarak 20 meter dan harus ditempuh selama tiga detik.

Tes Medis Tergantung Dengan Kebijakan Masing-Masing Klub

Pada umumnya, enam tahapan diatas dilalui oleh seseorang pemain yang ingin bergabung bersama tim baru. Namun enam tes tersebut tidaklah baku. Setiap klub memiliki kebijakan masing-masing dalam melakukan tes medis seorang pemain.

David Fevre

David Fevre mengatakan bahwa setiap klub memiliki kebijakan dalam melakukan tes medis para pemain

David Fevre selaku Head of Sports Medicine di klub Blackburn Rovers mengatakan bahwa tes medis di setiap klub itu berbeda, tergantung pada pelatih dan tentu saja kebijakannya. “Setiap pemain berbeda, sehingga berbeda pula dalam proses tes medis. Tergantung dengan faktor usia, riwayat, dan lain sebagainya,” ungkap Feyre.

George Boyd Gagal Tes Medis

George Boyd

George Boyd pernah dinyatakan tidak lolos tes medis karena masalah penglihatan

Salah satu contoh pemain yang gagal dalam tahapan tes medis yakni George Boyd. Pemain berkebangsaan Inggris tersebut kala itu ditransfer dari Peterborough United ke Nottingham Forest. Namun, pesepakbola yang kini bermain untuk Burnley itu dinyatakan tidak lolos tes medis dikarenakan masalah penglihatan. Padahal, Boyd pernah mencetak gol.

Proudly powered by WordPress
Theme: Esquire by Matthew Buchanan.